Aa Umbara Sutisna: Bandung Barat Bangun Insenerator Sampah

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat memulai teknologi baru mengurangi persoalan sampah di kawasan wisata Lembang.

Teknologi tungku sampah insenerator diterapkan untuk mengatasi persoalan sampah di Kabupaten Bandung Barat. Penerapan teknologi ini tidak membutuhkan lahan yang luas, pengelolaannya ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomis.

Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna mengatakan, penerapan teknologi pengolahan sampah insenerator diyakini menjadi salah satu solusi mengatasi persoalan sampah. Dengan teknologi ini, dari 1 kwintal sampah yang diolah hanya menyisakan sekitar 10 persen sampah Itupun sudah dalam bentuk abu.

“Teknologi insenerator ini baru pertama diterapkan di Bandung Barat. Sisa pembakaran sampah yang hanya sekitar sepuluh persen masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku bata, beton hingga kompos. Juga tidak mengeluarkan asap. Ini artinya tidak ada yang terbuang dari sampah,” kata Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna seusai peletakan batu pertama pembangunan tungku sampah insenerator di Lapangan Sinapeul. Desa Gudangkahuripan. Kecamatan Lembang, Kamis (17/1).

Hasil produksi pengolahan sampah, baik itu pupuk, bata maupun beton bisa dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sehingga menjadi sumber pendapatan bagi lembaga usaha milik desa tersebut.

Dia mengatakan, jika proyek percontohan di Gudangkahuripan berhasil, maka akan dibangun di sejumlah tempat lainnya. Bisa saja dibangun 2-5 TPA insenerator di setiap kecamatan.

“Jika proyek yang didanai dari CSR ini berhasil akan kita bangun di desa-desa lainnya. Sehingga penanganan sampah cukup sampai tingkat desa, enggak lagi tergantung pada TPA Sarimukti.” paparnya.

Pembangunan insenerator di Desa Gudangkahuripan menghabiskan anggaran sebesar Rp 400 juta. Dibiayai seluruhnya dari corporate social responsibility (CSR) perusahaan. Teknologi yang diterapkan ini merupakan karya peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Penerapan teknologi insenerator ini mendukung target Bandung Barat bersih dari sampah dan sejalan dengan jargon Lumpaat,” katanya.

Kegiatan ini dihadiri Komandan Sektor 22 Citarum Harum Kolonel Asep Rahman Taufik, Camat Lembang Slamet Nugraha, Kepala Desa Gudangkahuripan Agus Karyana, dan sebagainya.

Kepala Desa Gudangkahuripan Agus Karyana mengatakan produksi sampah di Gudangkahuripan mencapai rata-rata 1 ton /RW/minggu. Pengangkutan dillaksanakan seminggu sekali.

“Pengangkutan sampah bisa dilaksanakan secara bergilir. Jadi setiap hari tetap ada sampah yang diolah di insenerator ,” tandasnya.

Peneliti dari ITB Hengky Pudjoraharjo menjelaskan teknologi insenerator sampah karya ciptanya diberi nama Insenerator HK 2010. HK itu merupakan singkatan dari Hengki Pudjoraharjo yang merupakan penciptanya.

“Sedangkan 2010 adalah tahun dimana insenerator ini diciptakan. Sebelumnya. teknologi ini sudah diterapkan di Kota Makassar,” kata Hengki.

Menurutnya, teknologi insenerator yang dibuatnya memiliki kapasitas 1 ton sampah. Pembakaran dengan menggunakan bahan bakar gas elpiji.

“Butuh tiga orang operator untuk mengoperasikan insenerator ini. Biaya operasionalnya sekitar Rp 200.000 per hari yang sebagian.besar digunakan buat elpiji,” tuturnya

Teknologi insenerator sampah buatan peneliti ITB jauh lebih sederhana dan tidak membutuhkan lahan yang luas seperti yang pernah ditawarkan perusahaan asal Cina, PT Dongkuk. Perusahaan asal Negara Tirai Bambu ini membutuhkan lahan seluas 100 hektare.

“Kapasitas mesin yang kami buat ini idealnya memang 1 ton. Kalaupun ingin pengelolaan sampahnya lebih besar, paling mesinnya yang ditambah. Tidak satu tapi dua atau lebih,” tukasnya.

Sumber: rmoljabar